Rencana pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia yang akan ditempatkan di Pulau Kelasa, Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, harus menjadi peringatan keras bagi kita semua.
Oleh: Muhammad Afif Tarjih
Dosen Pariwisata Institut Citra Internasional
Di tengah luka lama yang belum sembuh akibat eksploitasi skala besar oleh oligarki dan pemerintah selama puluhan tahun, keputusan ini patut dipertanyakan secara mendalam.
Bangka Belitung sudah lama menyimpan noda kelam. Tambang timah yang menjadi sumber utama kekayaan daerah ini ternyata menyisakan kerusakan lingkungan parah dan pencemaran yang mendalam.
Tanah yang dulu subur kini rusak, ekosistem yang terganggu, dan masyarakat yang menanggung beban sosial serta ekonomi yang berat. Belum lagi kasus korupsi raksasa senilai Rp300 triliun yang melanda daerah ini, yang tak hanya menggerogoti potensi ekonomi, tetapi juga menjerumuskan Bangka Belitung ke dalam krisis yang berkepanjangan.
Yang lebih mengkhawatirkan, pemerintah secara gamblang memilih Batam sebagai lokasi pabrik Hilirisasi Timah Nasional, seolah Bangka Belitung hanya diberi “lukanya” saja, sementara berkah ekonomi dialihkan ke luar daerah. Kini, dengan rencana PLTN di Pulau Kelasa, luka lama siap disusul dengan duka baru. PLTN bukan sekadar proyek infrastruktur; ini adalah wilayah uji coba baru yang secara etis dan lingkungan harus dipertimbangkan dengan sangat serius.
Apakah masyarakat Bangka Belitung siap menjadi tempat eksperimen energi nuklir tanpa jaminan perlindungan dan keadilan? Siapa yang akan menanggung jika terjadi kebocoran atau dampak buruk lain dari reaktor ini? Apakah keuntungan dari proyek ini akan benar-benar dirasakan oleh masyarakat lokal, atau justru hanya memperbesar dominasi oligarki yang selama ini merugikan rakyat?
Gerakan mahasiswa dan elemen masyarakat Bangka Belitung harus bangkit dan mengkaji ulang rencana ini. Tanpa pengawasan ketat dan perlawanan bersama, pulau ini bisa semakin menjadi korban manipulasi kepentingan penguasa. Jangan sampai Bangka Belitung menjadi zona eksperimen bagi elit-elit yang haus kekuasaan dan keuntungan.
Mari kita pikir ulang: Apakah PLTN ini benar-benar “paket hadiah” dari negara untuk Bangka Belitung, atau justru luka baru yang siap menggores lebih dalam luka lama?
Keadilan, kesejahteraan, dan kelestarian lingkungan mutlak harus didahulukan daripada proyek berisiko tinggi yang mengorbankan masa depan masyarakat Bangka Belitung. Sudah saatnya suara rakyat didengar dan keputusan diambil dengan hati nurani, bukan sekadar kepentingan segelintir pihak.








