Berita  

Keluh Keluarga Pasien Asal Kecamatan Bambang Dibebankan Biaya Mobil Ambulance

Keluh Keluarga Pasien Dibebankan Biaya Mobil Ambulance Puskesmas Bambang
Gambar ilustrasi mobil Ambulance. Dok: Inilahbanten.

Keluh Keluarga Pasien Dibebankan Biaya Mobil Ambulance Puskesmas Bambang

Mamasa, Timurterkini.com – Keluarga pasien asal Kecamatan Bambang, Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat, Keluhkan pelayanan Puskesmas Bambang.

Pasalnya, pasien penderita stroke ringan menggunakan mobil Ambulance beberapa waktu lalu dibebankan pembayaran Rp 1 juta rupiah.

Salah satu keluarga pasien yang meminta kepada laman ini untuk identitasnya tidak di publikasikan, menuturkan hal itu.

Menurutnya, permintaan biaya mobil ambulance senilai 1 juta rupiah itu terjadi saat keluarganya dirujuk ke RS Regional di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat yang hari dan tanggalnya tidak untuk disebut.

Saat keluarganya di rujuk, dirinya terlebih dulu berada di Kabupaten Mamuju, namun berdasarkan keterangan yang ia peroleh, bahwa uang tersebut untuk pembelian bahan bakar dan makanan.

“Pembeli solar katanya sama uang makan, pastinya itu 1 juta, Itu uang diambil oleh yang antar di dalam mobil, mungkin disuruh keluargaku,” kata dia via telepon.

Sebelum kejadian ini lanjut dia, peristiwa serupa di alami keluarganya beberapa bulan lalu saat dirujuk ke (Rumah Sakit Umum Daerah Kondosapata Kabupaten Mamasa Red).

Saat itu, keluarganya juga menggunakan mobil Ambulance dan dibebankan membayar Rp 500 ribu rupiah.

“Sebelum ini keluargaku di rujuk, almarhum (Keluargaku Red) pernah juga dirujuk ke rumah sakit Balla, dia bayar juga 500 ribu dengan alasan untuk pembeli solar dengan uang rokoknya pak sopir, belum diganti juga, tapi ini juga yang baru-baru diminta juga satu juta, tapi saya tidak ada di situ apakah ada pembicaraan tentang pembeli bensin atau rokok atau bagaimana, saya tidak tau,” jelasnya.

Uang senilai 1 juta rupiah itu, dirinya tidak mengetahui pasti apakah di pinjaman atau apa.

Sementara pasien, lanjut dia, namanya terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.

“Tidak pernah dibilang mau dikembalikan, yang saya tau seperti dia bilang keluargaku, uang itu uang dia pinjam,” ungkapnya.

Keluarga pasien lainnya yang juga menolak disebut identitasnya, berharap agar kejadian seperti di Puskesmas Bambang tidak terulang lagi.

“Kasihan pasien yang senasib dengan kami yang tak mampu kalau sakit parah membayar mobil ambulance, kalau bisa agar jangan terulang terus,” sambungnya via telepon.

Selain itu, dirinya berharap untuk dana yang diambil agar dikembalikan, sebab kata dia, dana tersebut merupakan uang pinjaman.

“Kalau bisa itu dana dikembalikan juga, karena uang dipinjam juga itu kasian,” harapnya.

Mantan Kepala Puskesmas Bambang, Medison, sebelumnya berdalih tidak tidak mengetahui pasti adanya pembayaran yang dilakukan oleh salah seorang pasien.

Namun setelah menemui bidan yang mengantar pasien tersebut, dirinya kembali membenarkan adanya pengambilan uang ke pasien.

Hal itu dibenarkan setelah dirinya mendatangi rumah bidan untuk mengkonfirmasi yang mengantar pasien saat itu.

Dirinya tak menampik, bahwa nama pasien yang dirujuk waktu itu terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.

“Peserta dan ini juga saya ada di rumahnya bidan dan keluarganya juga ini, dia juga menantang dan kecewa juga, saya suda konfirmasi bidan,” kata Medison via telepon, Minggu 13 November 2022.

Bidan yang mengantar saat itu, tak lain adalah keluarga pasien sendiri.

Sementara Dana yang diambil, menurut dia, nantinya akan dikembalikan saat BPJS Kesehatan ter klaim.

“Benar, karena itu supir dengan pengantar keluarganya ya apa mau dia pake mengantar, dengan catatan nanti itu berkas-berkasnya di klaim ke BPJS, setelah ter klaim baru dikembalikan, dari pada tinggal keluarganya,” tuturnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, bahwa ada beberapa kesepakatan dilakukan di Puskesmas.

“Jadi memang ada semacam yang kami sepakati bahwa kalau ke Mamuju atau Polewali, karena ini sopir kasian sukarela, bukan kontrak, jadi memang diperhitungkan biayanya, kalau ke Mamuju standar 400 biayanya, tambah solar 350, tambah pendamping katakanlan bidan minimal juga 250,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa, dr. Hajai S tangga, menjelaskan bahwa pencairan dana itu susah.